Dunia, mengalami krisis pelaut profesional sekitar 40 ribu yang dipicu oleh terjadinya siklus penurunan minat menjadi pelaut seumur hidup. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, banyak negara berupaya menutupi kekurangannya, meskipun diprediksi masih sulit terpenuhi. Demikian Yan Risuandi, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) jurusan Nautika, kepada FaktaSatu.
Kekurangan pelaut ini, akibat penurunan minat untuk melanjutkan bekerja di laut karena faktor usia. Rata-rata mereka yang sudah memasuki usia 40-50 tahun, lebih banyak memilih bekerja di darat. Fenomena ini, merupakan tantangan sekaligus kesempatan bagi para pelaut muda Indonesai untuk menjadi pelaut profesional.
Salah satu cara mengantisipasi kekurangan tenaga pelaut, Pemerintah Indonesia membangun beberapa sekolah kepelautan seperti yang terdapat di Minahasa Selatan dan Pariaman, Sumatera Barat. Dengan didirikannya lembaga pendidikan di kedua daerah tersebut diharapkan mampu menyedot animo calon pelautt yang andal dan tangguh.
Selain menciptakan lembaga pendidikan baru, pemerintah juga memaksimalkan lembaga pendidikan kepelautan yang sudah ada. Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP), juga tidak ketinggalan berupaya mencetak pelaut yang profesional. Bahkan selain menjaring taruna melalui program reguler, juga melakukan manuver dengan menggelindingkan programOfficer Plus (OP).
Kedua program itu merupakan bukti serius pemerintah, mengatasi krisis tenaga pelaut yang sedang terjadi. Yan, yang pada waktu itu menjabat sebagai Ketua STIP periode 2008 – 2012, menjalankan instruksi Freddy Numberi, Menteri Perhubungan, agar mengatasi kekurangan pelaut yang terjadi baik di Indonesia maupun dunia.
Upaya yang telah dilakukan, sambung Yan, terjadi peningkatan dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai tiga ratus menjadi lima ratus siswa dari tiga ribu pendaftar. Kelimaratus siwa itu masing-masing mengambil jurusan Nautika (210 siswa); Teknika (210 siswa) dan sisanya jurusan Ketatalaksanaan Angkutan Laut dan Kepelabuhanan (KLK).
Selain menjalankan program reguler, memasuki 2009, STIP menambah program bernamaOfficer Plus 60. Dari sejumlah siswa yang tertampung, dididik menjadi pelaut profesioanal dan dijamin menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Perhubungan Laut. Sayangnya dari program yang telah dirancang khusus ini, STIP hanya mampu menyerap siswa sebanyak 42 dari 60 siswa yang ditargetkan.
Tidak tercapainya target, dikare-nakan banyak yang tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan dari lembaga pendidikan. Persyaratannya meliputi: calon siswa harus berasal dari lulusan sekolah unggulan; bagi sekolah yang masih menerapkan sistem rangking, maka siswa harus menempati pada rangking satu sampai sepuluh; nilai bahasa Inggris tidak boleh di bawah nilai 70 sejak kelas satu sampai kelas tiga; dan nilai rata-rata harus di atas 70.
Siswa taruna yang telah masuk dalam program ini memeroleh uang saku dan tidak dikenakan biaya apapun. Meski demikian, banyak siswa taruna reguler yang dinilai memenuhi syarat untuk dipindahkan ke program Officer Plus banyak yang menolak, karena mereka tidak ingin terikat keharusan menjadi PNS.
Belakangan, menurut sepengetahuan Yan yang pernah menjadi Hakim Mahkamah Pelayaran ini, program serupa mulai dilaksanakan lagi.
STIP DIDIK PELAUT PROFESIONAL
STIP dan lembaga pendidikan serupa yang berada di bawah per-lindungan Kementerian Perhubungan, pada intinya mendidik untuk mencetak calon pelaut dengan mengacu pada Standards of Training, Certification & Watchkeeping(STCW). STCW merupakan pedoman yang diatur oleh International Maritime Organization (IMO) yaitu organisasi ke-lautan internasional di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Untuk memberikan pendidikan maksimal dan upaya memenuhi standar internasional, STIP menekankan pendidikan pada pengetahuan; pemahaman dan keterampilan. Selain ketiga kompetensi tersebut, lembaga pendidikan kelautan ini juga menekankan pada sikap disiplin dan bertanggung jawab.
Pendidikan melalui sistem asrama, menjadi salah satu solusi yang paling mendekati untuk mencetak siswa menjadi pelaut yang berdedikasi dan berdisiplin tinggi. Karena selama menjalani pendidikan di asrama, diyakini akan lebih efektif menciptakan kedisiplinannya dengan menggunakan sistem militer.
Di asrama, siswa berpakaian seragam, dilatih baris berbaris, mem-beri hormat, serta tidak diperbolehkan bertemu keluarga selama tiga bulan. Suasana inilah yang secara psikologis bisa menyimulasikan seperti kondisi di kapal. “Tujuan diasramakan bukan sekedar mendidik keterampilan dan pengetahuan saja, tetapi menanamkan sikap. Kami masih meyakini pen-disiplinan siswa melalui pola militer,” ungkap mantan Direktur Perkapalan dan Kepelautan pada 2012 – 2014.
http://www.faktasatu.com/index.php/about-us/item/52-dunia-masih-kekurangan-tenaga-pelaut